J.J ROUSSEAU DAN PEMIKIRAN - PEMIKIRANNYA TENTANG PENDIDIKAN

  KATA PENGANTAR


       Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah tentang J.J ROUSSEAU dan pemikiran pemikirannya tentang pendidikan ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Zainal Abidin M.Pd. selaku Dosen mata kuliah Pengantar Pendidikan yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Tak lupa juga ucapan terima kasih kepada teman – teman yang telah turut membantu dalam proses pembuatan makalah ini. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

       Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.


ISI


BIOGRAFI

Nama lengkapnya adalah Jean-Jacques Rousseau yang dilahirkan di Jenewa, Swiss pada tanggal 28 Juni 1712.  Namun malang menimpa, bundanya hembuskan napas terakhir tak lama sesudah melahirkannya.

-Masa Kecil

Nasib buruk masih terus membuntuti kehidupan Rousseau. Di umur sepuluh tahun ayahnya diusir dan meninggalkan Jenewa dan hiduplah Rousseau seorang diri. Kemudian Rousseau sendiri meninggalkan Jenewa tahun 1728 ketika umurnya menginjak enam belas tahun.Bertahun Rousseau berkelana dari satu tempat ke tempat lain, dan bekerja di satu tempat dan pindah kerja di tempat lain. Di sela-sela itu dia terlibat percintaan dengan banyak wanita, antara lain dengan Therese Levasseur yang ujung ujungnya punya lima anak di luar perkawinan.

-Terkenal Sebagai Filsuf

Pada tahun 1750 di umur 38 tahun, mendadak Rousseau jadi tenar. Akademi Dijon menawarkan hadiah esai terbaik tentang pokok soal: Apakah seni dan ilmu pengetahuan memang punya manfaat buat kemanusiaan? Esai dari Rousseau berhasil mendapat hadiah pertama.

-Karya Karya JJ. Rousseau

Sesudah itu namanya melangit. Beruntun muncullah karya-karya lainnya, termasuk Discourse on the Origin of Inequality (1755); La nouvelle Heloise (1761); Emile (1762); The Social Contract (1762); Confessions (1770) yang kesemuanya itu melambungkan kemasyhurannya. Tambahan lagi, karena Rousseau suka musik, dia menggubah dua opera masing-masing Les muses galantes dan Le devin du village.Tulisan-tulisan Rousseau orang bilang merupakan faktor penting bagi pertumbuhan sosialisme, romantisme, totaliterisme, anti-rasionalisme, serta perintis jalan ke arah pecahnya Revolusi Perancis dan merupakan penyumbang buat ide-ide modern menuju demokrasi dan persamaan.


KONSEP PENDIDIKAN MENURUT J.J ROUSSEAU

Pandangan Rosseau tentang pendidikan diuraikan dalam bukunya yang terbit pada tahun 1762 berjudul Emile ou de l’Education (Emile, atau tentang pendidikan). Dalam karyanya ini, nampak ide revolusiner filsuf Prancis tersebutmengenai pendidikan yang berbeda dengan semangat jamannya saat itu (dan saat ini). Anjurannya yang terkenal kepada para pendidik: “Berbuatlah sebaliknya dari yang menjadi kebiasaan sekarang ini dan hampir selalu anda akan bertindak dengan tepat”.

Pandangan revolusioner Rosseau tentang pendidikan didasarkan atas pandangannya akan kebaikan alam kodrat yang asali. Menurutnya dalam “keadaan primitif” (etat naturel) manusia adalah otonom dan bahagia. Dalam keadaan primitif undang-undang tidak dibutuhkan sebab di dalam hatimanusia sama sekali tidak ada ketidakberesan. Namun oleh kehidupan bersama dalam masyarakat, dan kebudayaan keadaan asali yang sempurna itu tidak ada lagi. Sebagai akibatnya muncullah berbagai kesengsaraan, korupsi, inotentisitas, dan berbagai kelicikan. Manusia lalu menjadi iri hati, egois, dan mulai berperang dengan sesamanya.Untuk keluar dari keadaan liar (etat sauvage) dan masuk pada suatu “jaman baru”,makaorang perlu mengganti metode pendidikan sekarang ini dengan metode pendidikan baru yang dapat mengembalikan beberapahak dalam keadaan primitif dalam keadaan sosial (etat social).


PANDANGAN SAYA TERHADAP KONSEP PENDIDIKAN J.J ROUSSEAU

Metode pendidikan bagi anak-anak yang dianjurkan Rousseau adalah metode pendidikan negatif, di mana untuk menjadi manusia berbahagia, anak harus dijauhkan dari kebudayaan. Alam di dalam anak sendiri harus diberi kebebasan untuk berkembang secara bebas. Rousseau mau menekankan suatu bentuk pendidikan yang berkelanjutan, yang melalui tahap-tahapnya secara alamiah, di mana setiap proses dalam tahapan pendidikan perlu disesuaikan secara hati-hati dengan kebutuhan perkembangan setiap individu. Bentuk pendidikan yang bertahap ini, menurut Rousseau, sesuai dengan “kemajuan alamiah hati manusia”. Pendidikan awal pada masa kanak-kanak, menurut Rousseau, cukuplah dibatasi pada pengetahuan sensitif, yang bertujuan untuk mendidik anak-anak agar dapat menggunakan indra-indranya dengan baik. Anak hendaknya dibiarkan untuk belajar sendiri melalui pengalamannya, yaitu melalui tindakan-tindakan mencoba dan kesalahan-kesalahan yang dibuatnya sendiri. Opini umum dipandang Rousseau sebagai tirani yang menghambat seorang anak untuk dapat mengidentifikasikan dirinya. Dengan demikian, anak terisi untuk menjadi dirinya sendiri dan sungguh-sungguh teresap dalam adanya yang aktual. Bakat dalam diri setiap anak pada dasarnya adalah baik dan cukup, karena itu seorang pendidik tidak perlu berbuat banyak tetapi cukuplah ia menjaga si anak dari berbagai pengaruh buruk yang datang dari luar. Seorang pendidik hanya perlu memberi koreksi seperlunya pada tindakan si anak.

Kata-kata yang berhubungan dengan otoritas, ketaatan, memerintah, dan sebagainya harus dihindari, sebab anak memiliki kebutuhannya yang tertentu dan haknya sendiri sebagai suatu ada yang eksis. Bila anak pada tahap awal ini telah dijejali dengan pelbagai perintah dan larangan, maka yang terjadi justru anak akan bertindak sebaliknya. Anak harus diperlakukan sebagai seorang anak, tidak boleh diperlakukan sebagai orang dewasa sebab “alam menghendaki anak untuk menjadi anak sebelum ia menjadi orang dewasa”. Dengan membiarkan anak berkembang secara alamiah maka hasil optimal dapat terjamin. Itu tidak berarti bahwa pendidik atau orangtua harus selalu menyerah pada kemauan si anak. Sebagaimana pendapat umum, Rousseau juga berpendirian bahwa ada batas untuk kekejaman dan ada pula batas untuk permisivitas. Bahkan, menurutnya, hal yang paling pasti membuat seorang anak tidak berbahagia adalah “membiarkan dia untuk menghendaki segala-galanya sebagai miliknya”.

Setelah melewati pendidikan sensitif yang diperoleh melalui indra-indra, barulah pada usia lima belas tahun anak diberikan pendidikan akal budi. Pendidikan akal budi ini lebih bersifat merangsang kemampuan/energi potensial yang sebenarnya sudah ada dalam diri anak namun belum dibangkitkannya. Tugas seorang pendidik pada fase ini adalah menyadarkan anak akan potensi-potensi tersebut sehingga dapat dimanfaatkan secara efektif. Pendidik hendaknya merangsang anak agar bersemangat mengadakan penelitian mandiri, serta menemukan dan memecahkan persoalan dengan kemampuan budinya. Pengetahuan yang bersifat verbalistik dan otoritatif sebaiknya dihindari sebab hal itu akan membuat anak tidak mampu bernalar lagi dan hanya akan dapat “bermain”dengan pendapat-pendapat orang lain.

Dengan dimulainya pendidikan akal budi, timbul pula kesadaran moral dalam diri si anak. Dunia perasaan-perasaan dan dunia human mulai masuk dalam cakrawala pemahaman anak. Anak mulai terlepas dari isolasi individu serta bersatu dalam ikatan moral dengan lingkungan sosialnya. Kesadaran akan keutamaan moral ini akan mendorong anak untuk selalu mencintai dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Pada tahap selanjutnya, yaitu ketika anak kira-kira berusia delapan belas tahun, kesadaran akan nilai-nilai manusiawi dengan sendirinya akan melahirkan kesadaran akan Allah. Atas keyakinan ini Rousseau berpendapat agar pendidikan agama pun tidak diberikan pada usia dini. Sebelum berusia delapan belas tahun, anak harus dibiarkan untuk menemukan sendiri bakat religius yang ada di dalam dirinya. Rousseau khawatir, dalam pendidikan agama usia dini,yang dirasakan anak hanyalah kata-kata hampa dan kebiasaan-kebiasaan dungu. Rousseau juga mencela metode mengajar agama yang dogmatis karena anak hanya diwajibkan untuk menghafal sekumpulan pernyataan iman namun mereka sendiri tidak mengerti apa yang mereka hafalkan itu. Demikian pula dengan cara mengajar agama yang cenderung membesar-besarkan suatu hal dan tidak sesuai kenyataan, seperti gambaran tentang Tuhan. Rousseau meyakini bila para pendidik menggoreskan gambaran-gambaran yang salah tentang Tuhan dalam pikiran anak-anak maka hal itu akan terus melekat sampai akhir hidup mereka.

Tahapan-tahapan pendidikan Rousseau ini mungkin terlihat ekstrim dan menuai kontroversi. Saya sendiri belum mengetahui kalau ada institusi pendidikan yang menerapkan gaya pendidikan Rousseau di atas dan bagaimana tingkat keberhasilannya. Namun, apa yang ditekankan Rousseau bahwa hendaknya setiap kemampuan dikembangkan secara bertahap rasanya penting menjadi bahan pemikiran bersama dalam mengembangkan pendidikan yang konstruktif. Tidak perlu ada kecemasan apalagi ketakutan bahwa seorang anak tidak akan menjadi “manusia” kalau sejak dini ia tidak menghafal informasi sebanyak-banyaknya. Hal kedua, yaitu bahwa sekolah pertama-tama mesti menjadi tempat yang merangsang anak untuk berani berpikir mandiri dan kritis. Kreativitas dan kebaruan (novelty) hanya ada ketika seseorang berpikir lain dari pemikiran yang sudah ada. Sekolah yang baik adalah sekolah yang senantiasa mengkondisikan dirinya demi lahirnya generasi-generasi yang mampu memahami dan berpikir sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aliran-aliran Pendidikan dan Gerakan-gerakan pendidikan di Indonesia

Kenapa Manusia Harus di Didik??